Skip navigation

Monthly Archives: March 2009

Tukang Sayur

Orangnya gede besar, item, potongan rambutnya mirip Tukul tapi mukanya lebih baguslah dari Tukul hehehe. Gagah sekali saat dia menunggangi motor RX King-nya itu. Dari kejauhan sudah terdengar keras suara motornya yang dipacunya dengan jantan dengan suara klakson yang menjerit-jerit. Ugh, walau agak urak-urakan dan -ehm- dekil, aku suka cowok seperti ini ketimbang cowok manis, perlente, rapi dan girly.

Hampir tiap hari aku melihatnya melewati komplek kami ini dan tidak jarang pula aku sering ‘ketemu’ muka dengan dia. Dan sering kali pula dia mengangguk hormat dan tersenyum kecil kepadaku dan aku membalasnya serupa. Namun, tak pernah sekalipun aku berniat membeli sesuatu dari keranjang sayurnya itu. Palingan aku penasaran ama ‘terong berbulu’ dalam celananya itu. Ugh, aku hanya bisa curi-curi pandang ke arah selangkangannya.

Hari itu, aku iseng nongkrong di bengkel motor temanku. Biasalah aku asyik denger cerita tentang pengalaman seksnya tadi malam baik ama bininya maupun ama PSK idolanya itu. Aku tertawa-tawa mendengar celotehnya, vulgar dan tentu saja tanpa sensor. Detil sekali dia bercerita. Maklumlah, isi celananya aja sudah pernah aku rasakan walau harus merogoh kocek tapi ga terlalu dalam kok. Orangnya sih kecil-kecil aja tapi ‘anu’nya, ehm, luar biasa ukurannya. Namanya juga orang Madura, percaya atau tidak, beberapa cowok dari etnis ini yang kukenal memiliki senjata yang luar biasa.

Selang beberpa menit, muncul si tukang sayur menuntun RX King-nya itu. Wah, bergetar jiwaku melihatnya. Baru kali ini aku bakal melihatnya dekat. Oh, jantan dan gagah sekali lelaki itu. Dia melihatku dan nampaknya dia mengenalku. Dilemparnya senyum kecil yang kubalas dengan ramah. Sayangnya, dia cuman sebentar saja berada di bengkel itu. Motornya yang bocor itu ditinggalkannya.

“Itu yang tukang sayur itu toh?” tanyaku sama si Madura.

“Ya, namanya Supri”

Oh, baru aku tahu namanya.

“Gagah jantan….” ucapku vulgar di depan si Madura. Dia terkekeh sambil membuka ban motor itu.

“Kamu mau ama dia ya?”. Akh, ga perlu aku jawab-pun dia sudah tahu isi otakku.

“Nanti aku bilang ama dia” kata si Madura, “aku akrab kok ama dia tapi aku ga tahu apa dia mau apa ga ya…”

“Ehm…..”

“Tenang aja, “janjinya, “Nanti aku urus. Aku tahu kok dia itu sering kekurangan duit soalnya duit dia itu habis-habisan buat judi ama main cewek hehehe…”

“Ya udah…” ujarku, “aku pulang dulu. Tolong nanti ngomong ama dia ya.. Kasih aja nomor aku”

“Sep.. “tukasnya, “tapi ada persenan kan buat aku?”

“Ya.. Tenang aja klo masalah itu”

Besok harinya, aku mendapat SMS dari nomor baru. Kubaca isinya dan membuatku berdebar. SMS itu dari Supri, tukang sayur jantan itu. Isinya sih dia mau aja aku kerjain asalkan cocok dengan pembayarannya. Ehm, aku segera membalas SMS itu dan isinya menyanggupi permintaannya. Tak lupa pula, aku menanyakan ‘waktu pelaksanaan’nya. Hihihi.. Sayangnya, SMS-ku itu tidak dibalasnya lagi. Aku berusaha menelponnya tapi tidak dia angkat. Huh, membuatku sedikit kesal seakan dipermainkan.

Malam harinya, aku mendapat SMS lagi dari Supri. Isinya tambah membuatku berdebar. Dia ada waktu buatku malam ini. Aku-pun ‘mengundangnya’ ke rumahku. Setelah itu, aku mempersiapkan koleksi bokepku. Sengaja kupilih yang hot hot biar dia lekas horny.

Jantungku berdetak kencang, suara motornya membahana memasuki pekarangan rumahku. Dan, kudengar ketukan di pintu rumahku. Segera aku bukakan untuknya. Oh, Supri berdiri di depanku dengan gayanya yang seperti biasa, selenge’an, jantan, gagah dan apa adanya. Membuatku ga sabar rasanya menelanjanginya. Kupersilakan dia masuk dan cepat-cepat aku tutup pintu.

“Mau nonton dulu?” tawarku sambil memperlihatkan beberapa bokep di hadapannya.

“boleh…”

Setengah jam, aku belum berani macam-macam. Dia lebih banyak diam. Tapi, dia pasti tahu aku jelalatan memperhatikannya yang sedang berbaring terlentang di depan TV.

“sekarang?” tanyanya.

“Ugh…. Ehm…” aku gelagapan menjawabnya sambil memperhatikannya yang sedang mengusap-usap selangkangannya itu. Duh, aku ga sabar rasanya.

Kudekati dia dan kuusap selangkangannya. Dia diam saja sambil terus memperhatikan TV. Aku Segera aku gantikan tangannya dengan tanganku yang kemudian mengusap-usap selangkangannya itu. Jelas aku gemas sekali. Kuremas-remas pelan selangkangan yang masih di bungkus celana kain itu. Bisa kurasakan kemaluannya lagi tegang.

“ehm.. Bisa ga lampunya dimatiin?” pintanya saat jariku mulai menarik risluting celananya.

Aku bangkit dan menekan tombol off pada stop kontak. Seketika ruangan itu gelap. Hanya cahaya raemang-remang dari TV yag sedang menayangkan bokep dari DVD playerku. Aku mendekatinya. Dan ternyata dia sudah mempelorot celananya hingga sepaha. Nampak olehku CD murahan bewarna coklat muda masih melekat di pangkal pahanya.

“wah, udah nantang nih” celutukku.

Aku pelorot lagi celananya hingga terlepas dari kedua kakinya. Kini perhatianku kian besar terhadap gundukan di dalam CDnya itu. Kuremas gemas gundukan itu, ugh, lumayan juga punya dia. Aku berbaring di sampingnya. Lalu kususpkan tangan kananku ke balik CD nya dengan gugup. Supri diam saja bahkan cuek saat tanganku merogoh di dalam sana.

Oh.. Kutemukan bulu-bulu keriting yang lebat di pangkalnya. Tanganku bergerilya meremas batangnya. Ugh, ga terlalu panjang tapi besar juga. Dan, kusingkap CD itu. Mencuatlah rudal kebanggaan Supri. Terkungkung dalam genggaman tanganku. Kuperhatikan rudalnya item, agak berurat-urat. Jantan sekali rudalnya. Hangat dan hampir mengeras penuh.
“Wah… Pasti cewek-cewek teriak keenakan ditusuk ama ini” pujiku. Dia tertawa kecil. Dan tiba-tiba dia menggelinjang ketika jariku menyentuh telor puyuh di bawah sana.

“Telornya gede mas. Pasti isinya banyak”

Aku bangkit. Tak sabar lagi aku mulai menjilati biji pelernya itu. Aroma kejantanannya menusuk hidungku namun justru aku tambah semangat. Kujilati telor item berbulu itu dengan rakus. Supri menggelinjang-gelinjang dan napasnya ngos-ngosan. Tak kubuang kesempatan itu. Kusedot-sedot bergantian kedua bola rudal yang gede item itu. Supri menyentak-nyentak kecil kakinya. Nampaknya dia sangat terangsang saat telornya aku permainkan. Kepala rudalnya itu basah dengan cairan precum.

Puas membasahi bola-bola itu, lidahku bergerak ke atas. Ujung lidahku menelusuri urat-urat yang banyak melingkar di batang rudal itu. Lagi-lagi, Supri menggeliat sambil mendesah. Sejenak aku menghentikan aksiku.

“Enak ya??”

Supri tersenyum, nampak malu-malu. Ugh, dibalik sikap selenge’en dan gagah itu dia bisa malu juga hehehe.

“Pasti belum pernah ya seperti ini?”

“iya”

“katanya sering main cewek???”

“Kan langsung tancap gas….”

“Ama bini di rumah gimana?” korekku, “masa ga pernah sekalipun dijilatin??”

“Ga mau dianya….”

Aku kembali fokus pada rudal yang keras itu.

(to be continued to part 2)

Ehm, lama kuperhatikan Pak Wanto, satpam kantor itu. Umurnya hampir 40an, namun badannya masih bagus di balik pakaian satpam hitam2 yang ketet itu ,dan lumayan tinggi walau sedikit ‘ndut’, item, kumisan tipis yang tampak bekas cukuran. Terus terang, aku ada ‘nafsu’ ama dia. Gw banget.

Ada satu kebiasaannya yang membuatku keki. Dia senang sekali mencolek pantatku. Tambah hari kok pantatnya tambah seksi aja sih mas, celutuknya seraya mencolek pantaku bahkan kadang2 meremas kayak gemas gitu. Dan, biasanya hal itu ia lakukan saat aku melewatinya. Bahkan ga peduli betapa banyaknya teman2 sekantor yang tertawa menyambut leluconnya. Awalnya sih aku risih tapi selanjutnya aku cuek.

Ada satu hal yang menarik dari lelaki itu. Sungguh aku penasaran tonjolan yang menggunung di selangkangannya itu. Aku menelan ludah membayangkan ukuran kemaluannya. Aku jadi ‘terobsesi’ ingin menikmatinya.

Nah, hari itu, pertengahan Maret 2007, aku ketemu pak Wanto di lorong menuju toilet. Nampaknya dia baru selesai dari kamar kecil. Melihatku dia mengangguk dan tersenyum nakal. Aku berdebar, duh, gundukan itu membuatku makin penasaran

“eh, mas. Mau ke toilet ya?” sapanya mencoba ramah.

“ya, rame ga di dalam?”

“Ga mas. Sepi aja”

Aku melewatinya dan lagi-lagi tiba-tiba aku rasakan tangannya mencolek pantatku. Pak Wanto tertawa nakal.

“senang ya pak sama pantat saya?”tembakku.

“hehehe.. Bahenol..”

Aku tersenyum ragu membalas tawanya.

“sini deh Pak”panggilku agar dia mendekat. Dia yang semula mau berlalu, memandangku dan melihatku begitu serius segera mendekat.

“ada apa mas?”

“ehm… Saya penasaran Pak” jawabku, “ini apa sih? Kontol atau apa??”

Entah keberanian darimana, tanganku meremas gemas gundukan di selangkangan pak Wanto. Pak Wanto nampak kaget. Namun, ntah dia ga sempat menghindar atau memang pasrah, ga ada perlawanan dari dia.

“Membalas saya ya mas??” ujarnya sambil tertawa

“Habisnya bapak sering nyolek pantat saya. Ya, sesekali dong saya balas saja”

Pak Wanto tertawa lepas. Tanganku yang semula cuma sebentar meremas gundukan itu, kembali dengan berani meremasnya dengan gemas.

“ ini kontol atau apa pak,” celutukku nakal, “kayaknya gede banget Pak”

Pak Wanto nampak tidak menolak saat aku meremas-remas lagi dengan gemas kemaluannya. “ya kontol lah mas. Masa pentungan??” jawabnya sambil tertawa sumbang, mungkin risih karena tanganku masih menempel dan meremas-remas di sana.

“masa sih Pak,” aku kejar terus, ”gede ya Pak?”

“Iya lah. Ini aja belum bangun tuh”

“Akh, ga percaya”

“mau liat??” tiba2 dia menanyakan hal itu. Ehm…

“memang boileh saya liat?”

“klo mas mau buktiin,” tukasnya, “saya buka sekarang”

“Eh, jangan di sini Pak” cegahku saat dia mulai menurunkan risluting celananya, “di dalam, ntar ada yang liat kan malu tuh..”

“ Oh iya ya.. Lupa.. Hehehehe”

Di dalam, lantas kami memilih salah satu toilet di sudut ruangan dan tentu yang tertutup.

“nah, di sini kan aman Pak”

“Jadi mau liatnya?”

“Boleh. Saya penasaran segede apa sih”

Srettt.. Pak Wanto menurunkan risluting celananya lalu tangannya mencoba menyusup ke dalam celananya. Agak kesulitan baginya. Akhirnya, dilepasnya sabuk di pinggangnya melepas pengait celana kain bewarna gelap dan ketat itu. Kulihatlah sekilas gundukan itu dibalik balutan CD coklat tua. Akhirnya….

“Wah, astaga Pak,” gumanku kagum, “gede panjang Pak”
Pak Wanto tertawa seakan bangga dan mungkin senang karena mendapat pujian. Ya. Benda bulat panjang itu berada dalam genggamannya, masih lemas tentu saja, berjuntai indah dengan kepala besar mengecil ke pangkal batangnya yang ditumbuhi bulu lebat, yang pasti tidak pernah dicukur. Benda itu kian eksotik di mataku dengan warnanya yang gelap

“Nah. Sudah percaya kan?” ujar Pak Wanto seraya akan memasukan kembali ‘ular’ itu ke dalam sarangnya.

“Bentar Pak… “ cegahku, “saya belum puas melihatnya….”
Nekad aku pegang benda itu, terasa hangat. Pak Wanto tidak bisa menolaknya. Kugenggam dengan lembut benda itu.
“hihihihi.. Liat Pak,” ujarku, “warna kontol bapak di bandingkan dengan warna tanganku. Kontol bapak jauh lebih hitam tuh”

“Akh.. Mas ini bisa saja.”

Pak Wanto nampak pasrah membiarkanku menggenggam kemaluannya sambil berdecak kagum.

“Pak, ini aja belum bangun udah gede,”pujiku lagi, “gimana klo sudah bangun ya?”

Pak Wanto hanya tertawa kecil mendengar celotehku.

“Coba kita bangunkan yuk” ujarku nakal seraya mengocok pelan kemaluan Pak Wanto.

“Akh.. Kok dikocok mas?”

“Biar aja Pak, “pintaku, “saya pengen liat kontol bapak ini sebesar apa klo sudah mengeras”

“Jangan mas,” tolak pak Wanto, “Nanti klo sudah bangun gimana?”

“Cuman sebentar aja Pak”

“saat ini istri saya lagi datang bulan” terang pak Wanto, “Ntar saya salurkan ke mana? Ini aja sudah 4 hari ga dapat jatah”

“Tenang aja pak….”

Tak sabar lagi aku menanti lama. Aku segera jongkok dan mulai menjilati kepala kemaluan Pak Wanto. Sebentar saja kumasukan kepala kemaluan itu ke dalam mulutku. Aku permainkan dengan lidahku.

“ Mas……”

Pak Wanto nampak berusaha menarik kepala kemaluannya dari dalam mulutku.

“biar aja Pak” pintaku di sela-sela menyedot-nyedot kepala itu, “aku pengen ngisep kontol bapak yang gede”
Aku berusaha sedalam mungkin memasukkan kontol yg masih layu itu ke dalam mulutku hingga menyentuh pangkalnya. Kurasakan bulu-bulu jembutnya yang lebat menggelitiki bibirku. Kurasakan denyut kemaluan pak Wanto dalam mulutku. Puas mengulum benda itu samapi ke pangkalnya, aku mulai memaju-mundurkan mulutku sambil kugelitiki dengan lidahku.

“mas…..”

Pak Wanto nampaknya tidak kuasa menolak lagi. Kemaluannya berdenyut, memanjang, membesar dan tentu saja menegang. Membuatku agak kesulitan mengulum benda itu. Kugenggam pangkal batangnya itu sementara itu aku kian gencar menyedot-nyedot kepala dan sedikit batangnya.

Ada yang kurasakan kurang saat itu. Yah.. Aku kepengen menjilati biji kemaluannya. Segera aku pelorot celananya hingga ke pahanya. Kuangkat kemaluannya yang mulai mengeras itu, kuperhatikan kepala kemaluan itu menyentuh pusarnya yang berbulu lebat merambat ke atas dan ke bawah.

Owww.. Dua buah biji kemaluannya nampak menggantung indah, hitam dan besar pula. Tak sabar aku jilati keduanya bergantian, membuat Pak Warto menggelinjang. Kusedot2 dengan ganas.

“mas…”

Selanjutnya, kembali aku mengisap kepala kemaluannya yang membengkak walau kemaluannya belum begitu maksimal menegang. Kulumat-lumat dengan gemas. Kurasakan tubuh Pak Wanto bergetar-getar.

“mas… Saya mau keluar….”

Pak Wanto seakan mau menarik kemaluannya dari dalam mulutku, ia seakan ga mau air kenikmatannya membuncah dalam mulutku.

“Euhmm… Euhmmm….”

Aku menahannya agar tidak menarik kemaluannya dari dalam mulutku. Suaraku agak tidak jelas karena tersumpal kemaluannya..

“Akh…… Awas mas…”

Aku kian gencar mengisap-isap kemaluan pak Wanto, tubuhnya kian bergetar hebat dan akhirnya…
Crot… Crot… Crot..

Cairan kental hangat dengan bau khas membuncah dari kepala kemaluan Pak Wanto membanjiri mulutku. Saking banyaknya sebagian meleleh di luar bibirku dan menetes ke lantai. Sementara itu yang tersisa di dalam mulutku tertelan masuk tanpa terkontrol… Namun, aku terus mengisap-isap kemaluannya.

“udah mas…..” rintih pak Wanto karena aku masih saja menyedot-nyedot kemaluannya yang item itu mulai melemah dan mngecil.

“Ih, saya belum puas Pak. Kok udah keluar sih?”

“Baru kali ini mas saya dikulum sedemikian enaknya….” ceritanya malu-malu.

“masa?”

“iya. Kebanyakan cewek2 ga mau lama2 ngulum soalnya katanya kebesaran. Bikin cape”

Pak Wanto keluar duluan dari toilet, sementara itu aku keluar terakhir setelah menuntaskan HIP (hak ingin pipis) yang sedikit tertunda tadi.

Saat aku keluar, kulihat pak Wanto masih berada di situ di dekat wastafel sambil merokok. Dia tersenyum nakal dan aku membalasnya dengan canggung.

“Kenapa Pak?” tanyaku seraya membasuh wajahku dan kumur2 di wastafel.

“Ehm, mas sering ya ngulum kontol?” tanyanya, “kayaknya lihai banget”

“Iya…”

“oh… Pantesan enak banget”

“ Tapi bapak cepat keluar, saya kan belum puas”

“Saya udah 4 hari ini ga dapat jatah dari istri, mas” jawabnya, “jujur, tadi di toilet saya lagi ngocok tapi ga selesai soalnya ada Pak Andi sama Pak Ali masuk ke dalam. Saya takut ketahuan. Kan malu” ujar pak Wanto. Pak Andi adalah kabag di kantor kami. Orangnya ganteng dan aku sebenarnya suka tapi aku ngerasa illfeel aja sama dia soalnya he don’t have any bulge on his pants. Kayaknya punya cowok itu kecil aja. 7 tahun berkerluarga, dia belum juga mendapat momongan, kasian dia. Sedangkan Pak Ali wakil direktur, orangnya sih Ok tapi sama lah, setali 3 uang dengan pak Andy, kayaknya punya dia kecil juga walau demikian anaknya sudah 3 orang.

“Bapak mau tahu nggak?” kataku sambil melirik gundukan selangkangannya yang masih saja terlihat menggunung, “air mani bapak enak banget.. Gurih…”

“Hah?!… “dia kaget, “mas minum mani saya??”

Aku tersenyum melihat kekagetannya.

“Pak, saya ke ruangan dulu ya…” Aku pamit dan sekali lagi kuremas the hot bulge itu. Pak Wanto tidak menolak saat tanganku meremas selangkangannya.

Sejak kejadian di toilet, Pak Wanto dan aku masih bersikap biasa saja dan dia masih usil mencolek pantatku. Dan sesekali saat tidak seorang-pun di dekat kami, aku remas selangkangannya. Tapi, kami tidak pernah melakukannya di kantor lagi. Sesekali pak Wanto berkunjung ke kontrakanku sehingga aku bisa menikmati kejantanannya sepuasnya. Suatu saat akan kuceritakan saat2 dia berkunjung ke rumahku.

Ada yang aneh dari sikap teman-teman satpamnya. Mereka selalu memandangiku dengan tatapan nakal dan senyum aneh. Namun, aku cuek saja. Aku rasa aku mendapatkan kesempatan lagi untuk mendapatkan lelaki str8 yang haus seks. Hehehehe (07Jan2009)

Pertengahan Februari 2009.

Malam itu, malam sabtu, jam 1 lewat aku terbangun dari tidurku. Aku pun berusaha tidur kembali namun tetap susah untuk terpejam. Akhirnya, kuputuskan untuk online sebentar di MiRC. Kuhidupkan laptopku dan kusambungkan segera ke modem telkomflashku

Dan seperti biasa, aku online dengan nickname yang menggoda syahwat lelaki. Apalagi saat itu hawa terasa sangat dingin seakan menusuk tulang akibat hujan tadi malam. Di channel kotaku itu memang tidak banyak yang online. Namun, ada satu dua orang yang mengaku cowok menghampiriku. Semula aku mengaku cewek genit, namun setelah tukar nomor HP akupun mengakui klo aku cowok. Tak pelak, mereka kabur dengan sumpah serapahnya.

Jam 2an, sebuah nickname masuk di channel dan membuatku bersemangat. Dia “butuh_kehangatan”. Aku yakin pemilik nickname ini adalah laki-laki. Insting homoku membuatku menyapanya dengan penuh godaan.

‘’hi say”

Tidak perlu menunggu lama, dia membalas sapaanku itu.

“hi jg”

“lagi kedinginan ya??” tanyaku genit

“Iya nih..”

“Mau aku angetin ga?”

Namanya juga laki-laki, digoda dikit gitu apalagi malam-malam yang dingin mereka langsung nyambar umpan yang aku pasang. Perkenalan pun berlanjut. Ternyata umurnya 27 tahun dan baru tadi malam tiba di kota ini. Tentu saja aku mengaku seorang cewek kepadanya. Dan memang tidak bisa dipungkiri, pembicaraan kami selalu mengarah seks dan seks.

“Fs-nya donk.. aku kan pengen liat muka kamu”ketiknya, “udah tegang banget nih”

Duh, gimana ya? Aku sih ga punya acount bergambar cewek. Kupancing dia agar memberikan fs-nya terlebih dahulu. Lalu kuketik di kotak search. Aku kaget dan sekaligus deg-degan. Antara senang dan dan gimanalah au melihat sesosok cowok berpakaian loreng-loreng hijau di fsnya itu. Gagah dan garang juga walau ga cakep-cakep amat.

“Mas ini tentara ya??”

“Kenapa de? Ga mau ya sama aku?” tanyanya setelah terdiam beberapa detik

“Aku suka mas,” jawabku genit, “jantan dan gagah banget”

“Mana fs-mu say” desaknya, “aku udah ga tahan lagi pengen ketemu kamu”

Aku bimbang, aku merasa gak enak hati telah mengerjainya. Tak enak hati pula harus melepas tentara segagah dia. Duh…. Akhirnya, kuberikan alamat fs-ku kepadanya. Aku sudah pasrah dan yakin lelaki gagah itu akan mencemooh dan meninggalkanku.

“kamu laki-laki ya???”

Ugh, tuh kan aku pasti mulai dihina dan dicemoohnya.

“Iya mas… “jawabku, “jangan marah ya…. aku minta maaf”

Lama dia tidak memberikan jawaban dan akupun tidak berusaha tidak mengejarnya lagi. Aku salah sudah mempermainkannya.

“Memangnya kamu bisa apa untuk menghangatkan aku?”

Deg. Jantungku seakan berhenti berdetak. Setelah 5 menit berlalu, dia mengetik kalimat itu.

“Aku kepengen ngisep punya mas…..”

Sekian lama tidak ada tanggapan dari dia

“mas… boleh ga?” godaku lagi

“Kamu tinggal di mana memangnya?” tanyanya kemudian. “Tinggal sama siapa?”

Aku menyebutkan nama sebuah daerah dan kuyakinkan dia klo aku sedang sendiri di rumah. Aku rayu dan yakinkan dia dengan bahasa yang menyakinkan.

“Punyaku cuma diisep aja kan? Ga digigitkan?” tanyanya lagi

Akupun berusaha menyakinkannya lagi. Kukatakan padanya bahwa aku punya koleksi bokep yang lumayan banyak sebagai pemanasan.

“Oke, sekarang kita ketemu di mana?”

“Mas serius kan? Aya ga bakal dipukilin kan?

“Ngapain juga aku mukulin kamu? “katanya,”punyaku ini sudah mau meledak”

Kamipun berjanji bertemu di sebuah tempat pada jam itu juga. Bayangkan saja, jam setengah 3 pagi aku keluar rumah sekedar membuktikan ucapannya benar atau tidak. Dia tidak mau memberikan nomor HPnya tapi dia berjanji menemuiku di tempat yang sudah dijanjikan tadi.

Ternyata, dia datang lebih dulu. Duh, gagah dan jantan sekali tentara itu. Wajahnya lumayan dengan rambut cepaknya. Tampak bekas cukuran jenggot, jambang dan kumisnya. Tingginya 170-an dan warna kulitnya gelap. Badannya gempal dan tentu saja berotot dibalik kaos ketat yang dipakainya. Ehm, hawa sedingin ini dia malah ga pake jaket. Gairahku kian meledak-ledak ingin segera menikmati kejantanannya.

“Udah lama di sini nunggu?”

Asap rokok mengepul dari mulutnya. Aku agak segan juga sama dia.

“Barusan aku sampai di sini” jawabnya santai dengan logat Batak yang kental. Aku kaget campur senang. Mungkinkah??

“Oh….”

“Jadi kemana kita sekarang?” tanyanya seraya membuang puntung rokoknya, “aku cuma ada waktu sampai jam 6”

“Jadi kan ke rumahku bang?”

“Oke. Tapi aku jangan kau apa-apakan ya?”

#

“Mana de filmnya?” tanya si abang tentara saat berada di kamarku.

Sungguh, dari tadi aku mengagumi lelaki ini. Sering kulihat dia meremas selangkangannya.Ingin rasanya segara aku buka celananya itu.

10 menit kemudia kulihat dia merema-remas selangkangannya itu. Aku tertawa melihatnya.

“jadi ga de? Abang sudah ngaceng berat nih”

“Dari tadi aku udah pengen megang tapi aku takut abang marah”

Diapun berselonjor sambil bersangga dengan kedua tangannya ke belakang. Lalu, aku dengan deg-degan meraba selangkangannya. Kuremas gemas dan tanganku menemukan benda bulat panjang yang terbungkus di sana.

“buka ya bang” pintaku

Tanpa menunggu kompromi darinya, aku melepas pengait celana selututnya itu. Karena tidak memakai sabuk aku langsung bisa melihat celana dalam biru gelap yang dikenakannya..

“De, lampunya tolong dimatikan ya” katanya, “abang rasa malu nih”

Aku bangkit dan menekan tombol lampu. Namun, kuhidupkan lampu kecil sehingga suasana jadi remang-remang. Dan si abang tentara ini sudah terlentang di kasurku dengan bercelana dalam namun masih memakai bajunya. Tak sabar aku deketin dia. Kuremas gundukan menggunung di tengah kedua pahanya itu. Duh, punyaku tambah ngaceng.

“Gede ya…”

“Ayo isepin de…” katanya seraya melorotkan Cdnya.

“wow….”

Aku berdecak kagum. Rudal lelaki ini lumayan juga. Panjangnya kira2 15cm tapi gemuk. Membesar dari pangkal ke kepalanya. Bulu jembutnya lebat merambat ke atas di balik baju kaosnya itu. Kedua telornya pun gede ditumbuhi bulu-bulu. Dan yang membuatku senang, dia masih kulup. Pikiranku dari tadi ketika mendengar logatnya jadi kenyataan.

“Kenapa de?” tanya dia, “kau tidak suka sama punyaku yang ga disunat?”

Aku ga komentar lagi. Kuraih rudal mengagumkan itu. Lidahku bermain di kedua telor gedenya itu. Tak disangka dia menggeliat-geliat. Kusedot-sedot bergantian kiri kanan. Si abang mendesah-desah tidak karuan. Untungnya, aku lagi sendirian di rumah.

“De, isepin kepalanya” desah si abang

Aku ga segara menuruti permintaannya. Kujilati dulu kepala yang sedikit menyembul dari kulupnya. Ada cairan bening di situ terasa bersentuhan dengan lidahku. Kumainkan kulupnya di bibirku dengan gemas. Dia menggelinjang lagi.

Selanjutnya, aku ga sabar lagi aku masukan rudal itu ke dalam rongga mulutku yang menganga. Lidahku menyapu-nyapu sementara itu aku mulai menyedot-nyedot. Si abang melenguh pelan. Gairahnya meledak-ledak. Kesempatan itu aku gunakan sebaik mungkin. Aku singkap baju kaosnya tapi dia malah melepaskannya. Telanjang bulatlah dia sekarang.

Sejenak aku berhenti mengulum rudalnya. Kupandangi badan gempal yang seksi itu. Bulu dadanya duh aduh lebat merampat turun ke perut dan langsung menyatu dengan jembutnya. Oh….

“De….”

Tiba-tiba dia menarik kepalaku ke arah rudalnya. Aku kembali mengulum benda favoriteku itu. Namun kali ini dia menggoyang pantatnya dari bawah. Aku tersedak –sedak. Dipeanginya kepalaku kian erat dan saat itulah dia medesah.

“Aku.. mau… kluarrrrr….”

“ehm.. ehm.. “ jawabku sekenanya karena disumpal rudalnya itu. Maksudku sih mau bilang klo dia boleh ngecrotin mulutku.

Dan, aku agak tersedak saat dia dengan sedikit kasar menarik kepalaku sehingga rudalnya menghujam sedalam mungkin dalam mulutku. Kurasakan bibirku bersentuhan dengan bulu jembutnya yang keriting hitam lebat itu.

“Akh…….”

Crot… Crot… Crot….

Si abang mendesah dan air maninya berhamburan dalam mulutku. Aku hampir muntah namun air maninya itu kutelan juga walau sebagian meleleh di luar mulutku. Aku terus menerus menyedot air maninya yang ternyata gurih itu. Ga puas rasanya menikmati air kenikmatan itu.

“Akh… Udah….” katanya sambil menggelinjang kegelian.

Aku melepaskan rudal kulup itu dari mulutku. Keadaan rudal itu masih keras walau tidak sekeras sebelum ngecrot hehehe….

“Doyan kali kau sama maniku”

“Gurih bang” jawabku

Si abang itu pun berbenah diri. Dan kemudian menyalakan rokoknya. Lampu kamar aku hidupkan lagi dan kegagahannya pun terlihat jelas.

“Aku mau pulang dulu” pamitnya, “udah hampir jam 5, aku mesti laporan ke kantor dulu”

“Ok… “ kataku, “klo ada waktu mampir saja ya”

“Ya…”

Sebelum pamit dia berjanji akan mampir suatu saat jika dia ke kota ini lagi. Dan hingga sekarang ga ada dia mengontak aku walu sempat aku berikan nomorku ke dia. Biarlah… Lagipula aku ga terlalu berharap bisa ketemu dia lagi. (Maret 2009)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.