Skip navigation

Tag Archives: ngemut pria normal

Hari itu Sabtu, 4 Juni 2011, hasratku terpuaskan lagi dengan pria normal. Perlu beberapa waktu untuk mendapatkannya. Berbulan-bulan hinaan, makian, cemoohan sempat aku terima dari dia jika aku berani menelpon ataupun SMS dia. Bahkan pernah pula sebuah nomor HP masuk mengaku-ngaku sebagai istri dia melabrakku habis-habisan lewat SMS.

Dia itu supir truk. Biasanya bawa tanah, batu, pasir maupun batu gunung. Aku sering melihat dia di warung makan. Dan aku memang sengaja suka masuk ke warung-warung yang jadi tongkrongan supir-supir truk kala istirahat makan siang. Sambil makan, aku biasanya nanar menatap sosok-sosok mereka. Ada yang bagus, ada juga yang enggak tentu saja.

Nah, dia ini termasuk menerbitkan air liurku. Tinggi, agak ndut, dengan rambut cepak ala mas Tukul namun mukanya lebih enak dipandang  dibanding cover boy majalah sobek itu. :D. Umurnya sih aku taksir 35-an. Aku tidak pernah sekalipun bertegur sapa dengan dia. Senyum pun tidak. Hanya mungkin sama-sama kenal klo ketemu di luar.

Siang itu, aku lupa, mungkin udah hampir setahun yang lalu, aku makan siang di warung itu (sudah langganan juga sebenarnya). Dia ada. Juga makan siang. Namun, dia sudah duluan dari pada aku. Seperti biasa kami saling cuek, padahal hatiku kebat-kebit menginginkannya. Dia nampak asyik mengoda wanita muda pelayan-pelayan di warung itu.

Kebetulan, aku duduk dekat kasir. Kasir juga jualan pulsa elektrik. Dengan lantangnya dia menyebutkan nomor Hpnya. Dan, dia ga tahu telingaku begitu tajam mendengar angka demi angka yang dia sebutkan. Kupencet keypad HP-ku dan voilaaa, aku mendapatkan nomor dia dengan mudah. Awalnya, aku tidak yakin itu nomor dia, siapa tahu dia ngisikan HP istrinya kan? Namun, HP dia berbunyi saat notifikasi dari operator pulsa masuk. “Ya sudah masuk..” katanya kemudian. Aku gembira dan yakin seketika, aku mendapatkan nomornya.

Sesampai di rumah, aku pun mulai menghubunginya via SMS. Mulai saat itu aku berusaha menghubunginya, merayunya, dan sebagainya. Perlu perjuanganlah. Seandainya dia biseks atau gay, mungkin akan lebih mudah. Ini berbulan-bulan lamanya. Bahkan beberapa kali dia minta diisikan pulsa aku turuti. Lambat laun, sikapnya melunak.

Kira-kira seminggu sebelum 4 Juni, di pagi hari, aku SMS dia. Dia balas minta aku nelpon balik. Pertama dia minta pulsa dan pada akhirnya nego “harga” kemaluan dia itu. Aih, ya, aku harus bayar jika ingin menikmati barang dia. Kami memang tidak mencapai kata sepakat waktu itu. Tapi, dia hanya memastikan aku bisa menikmati barangnya kelak.

3 Juni, aku sudah berada di kota itu. Aku memang bekerja di kota lain. Sebelum magrib aku sudah mengabari dia. Kamipun janji ketemu keesokan sorenya. Sepanjang malam, sepanjang hari aku deg-degan. Walau, aku masih tidak yakin. Aku masih sangsikan dia mau apa tidak. Aku takut dia hanya pengen tahu siapa aku. Aku takut, setelah ketemu aku, dia langsung kabur meninggalkan aku.

Malam, jam setengah 7, aku janji ketemu dia di sebuah lahan kosong di pinggir kota. Aku memang tidak bisa memanfaatkan kamar di rumahku karena sepupu-sepupuku sedang mengunjungiku. Terpaksalah kami janjian di luar, di tempat sepi.

10 menit aku menunggunya. Mulai remang dan gelap. Tidak ada rasa takut di hatiku selain deg-degan. Dia datang. Bukan dengan truk tapi dengan motornya. Diajaknya aku masuk ke dalam padang ilalang bersama motor kami. Ketika menemukan tempat yang aman, yang jauh dari jangkauan orang, dia hanya duduk di motornya.

Aku berlutut. Menghadapi selangkangannya. Celananya sudah dia pelorot sepaha. Tidak sabar aku memainkan barangnya dengan mulutku. Dia tegang. Mendesis-desis. Ga terlalu gede. Ga terlalu panjang. Bola-bolanya juga kecil. Aku sempat heran. Bulunya nyaris tidak ada. Dicukur. Ga ada bau pesing. Yang ada bau jantan. Aku memang ingin dia tidak usah mandi hehe.. aku suka bau jantan. Membuatku semangat dan bernafsu.

10 menit-an, aku intens memainkan barangnya dengan mulutku. Kadang, walau sulit aku jilati bola itu. Lalu aku masukkan lagi ke mulutku. Cepat, desahnya. Tiba-tiba, tangannya memegang kepalaku. Dituntunnya kepalaku bergerak cepat dan dia mendesah-desah dan…

Akhhh…

Cairan itu membuncah di mulutku yang terus mengisap-isap dengan rakus. Kureguk dengan rakus. Terasa nikmat. Sayangnya, kurang kental, kurang banyak. Maklum 2 malam yang lalu, malam jumat, sudah dia pake buat istrinya. Aku memang berpesan meminta dia agar tadi malam jangan dipake dulu. Katanya sih dia ga ML tadi malam. Dan tak mau kulepas rasanya sampai mengecil. Berkali-kali topi baja itu aku jilati. Dia menepuk pundakku. Sudah, sudah habis, katanya. Dia bilang mau segera pulang, takut dicari istrinya.

Dan barang itu kembali ke sarangnya. Sempat aku cium gundukan CD bewarna putih itu sebelum dia tutup dengan celana selutut itu. Bau pesing. Bau yang aku suka. Aku bayar dia sesuai dengan kesepakatan kami. Dia hanya bilang, “ternyata kamu ya yang selama ini yang suka hubungi aku”. Aku ketawa bahagia. Senang rasanya.

Kami berpisah, pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa, aku isikan lagi pulsa dia. Keesokkan harinya, kami SMS-an lagi. Dia bilang apa yang aku lakukan tadi malam itu: “mantap”.

Ugh, aku kangen tapi belum ada waktu buat ketemu dia. Kadang kami masih kontak sampai sekarang. Berjanji ketemu di kemudian hari :)

 

Based on my own true story

6 Juli 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.